Showing posts with label Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Jurnal. Show all posts

Saturday, March 18, 2017

JURNAL PERBANDINGAN CARA EKSTRAKSI TERHADAP PENETAPAN KADAR FORMALDEHID PADA IKAN ASIN YANG BEREDAR DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

PERBANDINGAN CARA EKSTRAKSI TERHADAP PENETAPAN KADAR FORMALDEHID PADA IKAN ASIN YANG BEREDAR DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Fatjriani, Regina Andayani, Verawati 
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang

JURNAL PERBANDINGAN CARA EKSTRAKSI TERHADAP PENETAPAN KADAR FORMALDEHID PADA IKAN ASIN YANG BEREDAR DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS jurnal farmasi jurnal kimia farmasi PDF jurnal  farmasi IAI Jurnal Farmasetika Jurnal  Jurnal PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS ZAT PENGAWET NATRIUM BENZOAT PADA CABE MERAH GILING SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET jurnal kimia farmasi


Tuesday, January 10, 2017

UJI EFEK LAKSATIF EKSTRAK ETANOL DAUN JATI CINA (cassia senna L) PADA MENCIT PUTIH JANTAN

UJI EFEK LAKSATIF EKSTRAK ETANOL DAUN JATI CINA (cassia senna L) PADA MENCIT PUTIH JANTAN Jurnal UJI EFEK LAKSATIF EKSTRAK ETANOL DAUN JATI CINA (cassia senna L) PADA MENCIT PUTIH JANTAN Jurnal Efek Laksatif Ektrak Etanol Ekstrak Etanol  STIFI PERINTIS PADANG

UJI EFEK LAKSATIF EKSTRAK ETANOL DAUN JATI CINA (cassia senna L) PADA MENCIT PUTIH JANTAN

Adek Sianggian, Husni Mukhtar, Putri Ramadheni
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang

ABSTRACT
The research has been done on the test a laxative effect of ethanol extract of dried leaves daun jati cina (Cassia senna L) to the white male mice. This research was done experimentally by using 5 groups, each group consisted of 3 mice the negative control group, the comparator (Bisakodil) and the third group treated with a dose of 200 mg / KgBW, 400 mg / KgBW, 800 mgKgBB. In this study used two methods, namely the pattern of defecation and intestinal transit. Based on the research that has been observed showed that extracts of leaves of jati cina can affect intestinal transit, defecation frequency and stool weight of mice was significantly compared to the control (-) expressed with p<0,05. As for the parameters of stool consistency seen an increase in line with increasing dose. So from these statistical test can be concluded that the ethanol extract of dried leaves of teh jati cina (Cassia senna L) has activity as a laxative where the most effective results are shown at a dose of 200 mg/kgBB.

Keywords: Cassia senna L , sennoside, intestinal transit, laxative


PENDAHULUAN

Kata constipation atau konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang mempunyai arti ‘bergerombol bersama’, yaitu suatu istilah yang berarti menyusun ke dalam menjadi bentuk padat. Baru pada abad 16 istilah konstipasi digunakan pada keadaan ditemukan sejumlah tinja terakumulasi di dalam kolon yang berdilatasi.

Konstipasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kurang makanan yang mengandung serat, kurang minum air atau karena ketegangan saraf atau strees, tetapi dapat juga disebabkan efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi. Menurut penggolongan secara farmakologi laksansia berfungsi sebagai zat yang langsung  merangsang gerakan peristaltik dinding usus, memperbesar isi usus misalnya sayur-sayuran berserat, dan sebagai zat pelicin juga merangsang menimbulkan reflek defikasi di poros usus. Tujuannya adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan
defikasi menjadi normal (Sundari, 2010).

Berdasarkan National Health Interview, prevalensi konstipasi di Amerika Serikat berkisar antara 2-20%. Di Cina, survei yang dilakukan pada orang berusia kurang dari 60 tahun di beberapa kota menunjukkan kejadian konstipasi kronis sebesar 15-20%. Di Beijing dilakukan studi acak pada orang dewasa usia 18-70 tahun dan ditemukan 6,07% persennya menderita konstipasi. Konstipasi dapat terjadi pada segala usia, dari bayi sampai lansia. Berdasarkan International Database US Census Bureau pada tahun 2003 prevalensi konstipasi di Indonesia sebesar 3.857.327 jiwa. Angka kejadian konstipasi di dunia maupun di indonesia cukup tinggi namun masih sebagian besar penderita biasanya hanya melakukan pengobatan sendiri. Farmasis dapat menyarankan obat-obatan Over The Counter (OTC) guna perbaikan keluhan pasien.

Mengingat tingginya prevalensi konstipasi, maka perlu dilakukan penelitian tentang obat tradisional yang hasilnya dapat digunakan dalam penanganan konstipasi. Indonesia sendiri adalah negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah, terutama keanekaragaman tumbuhannya. Banyak spesies tanaman berpotensi sebagai obat tradisional yang hingga saat ini belum diteliti khasiat dan kegunaannya secara mendalam dan telah digunakan oleh masyarakat Indonesia secara turun-temurun (Depkes,  RI., 2000).

Salah satu tumbuhan yang sering digunakan masyarakat untuk pengobatan konstipasi  adalah Cassia senna L atau yang lebih dikenal juga dengan jati cina yaitu tanaman obat yang sangat  berharga pada pengobatan Ayurveda dan system pengobatan modern untuk pengobatan konstipasi  (Atal and Kapoor, 1982; Das et al., 2003; Martindale,1977;Sharma,2004). Daun jati cina digunakan secara tradisional sebagai pelangsing, menurunkan kolesterol, sembelit, laksatif, anti inflamasi, pembersihan usus (Agarwal &Bajpai, 2010).

Berdasarkan hal  tersebutlah maka penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai efek laksatif dari pemberian ekstrak etanol daun kering jati cina (cassia senna L) terhadap mencit  putih jantan.

METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Botol maserasi, alat pengaduk, rotary evaporator, timbangan digital, timbangan hewan, gelas ukur, jarum oral, vial, pipet, jam, alat ukur panjang, mortir, stamfer, seperangkat alat bedah, meja bedah hewan, wadah tempat hewan, erlemeyer, beaker glass, kertas saring dan spatel.

Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah: Daun jati cina kering yang beredar dipasaran yang di produksi oleh PT.L.A.M. Tangerang, Indonesia dan didistribusikan oleh Dunia Herbal 88 Jakarta, Indonesia / Dep.Kes.P.IRT No. 610367102003 / LP.POM No. 17120007160612/ ED . Desember 2020.
Etanol 70%, Aquadest, NaCMC, Mg dan HCl(p), FeCl3, kloroform, H2SO4 (p), asam asetat anhidrat, kloroform asetat, kloroform amoniak 0,05 N, H2SO4 2N, asam asetat, bisakodil (dulcolax®), Norit.

Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan berupa daun kering jati cina  yang beredar dipasaran  berasal dari tanaman jati cina (cassia senna L) yang didapat dari pedagang obat tradisional PT.L.A.M. Tangerang, Indonesia dan didistribusikan oleh Dunia Herbal 88 Jakarta, Indonesia / Dep.Kes.P.IRT No. 610367102003 / LP.POM No. 17120007160612/ ED . Desember 2020.

Pembuatan Ekstrak
Ekstraksi  sampel dilakukan dengan metoda maserasi (perendaman). Daun jati cina kering ditimbang sebanyak 1 kg. Kemudian dimasukkan kedalam botol berwarna gelap, direndam dengan etanol 70% selama 5 hari dan disimpan ditempat gelap sambil sesekali diaduk. Maserat diaduk setiap hari. Setelah 5 hari perendaman, disaring dan ampasnya direndam kembali. Penyaringan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Filtrat etanol yang didapat dari hasil ketiga perendaman di atas didestilasi vakum untuk menguapkan pelarut kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental, kemudian ditimbang (Departemen Kesehatan, 2000).

Pemeriksaan Organoleptis
Pengamatan dilakukan secara visual dengan mengamati bentuk, warna dan bau.

Penentuan Susut Pengeringan (Depkes RI, 1995)
Ekstrak ditimbang sebanyak 1 gram dan krus porselen yang telah ditara, dikeringkan didalam oven suhu 100°C-105°C selama 30 menit. Ekstrak dimasukkan ke dalam krus tersebut dan ditimbang kembali kemudian perlahan-lahan krus digoyang agar ekstrak merata. Krus dimasukkan ke dalam oven dengan tutup krus yang dibuka dan tutup dibiarkan berada didalam oven. Dipanaskan  selama 1 jam pada suhu 100°C-105°C. Setelah itu dikeluarkan dan didinginkan di dalam desikator lalu timbang. Lakukan pengulangan seperti cara yang sama dengan diatas sampai diperoleh berat yang konstan.

Rumus:
% susut pengeringan= ((B-A)- (C-A))/((B-A))   X 100 %
Keterangan:
A = Berat krus kosong
B = Berat krus + sampel sebelum dikeringkan
C = Berat krus + sampel setelah dikeringkan

Penentuan Kadar Abu (Depkes RI, 1995)

Ekstrak ditimbang sebanyak 2 gram. Masukkan ke dalam krus porselen yang telah dipijar, kemudian pijar kembali perlahan-lahan hingga warna asap putih hilang, dinginkan dalam desikator, masukkan ke dalam furnes suhu 600°C selama 5 jam. Kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang kembali, kemudian persentase kadar abu dihitung.
Rumus:
% kadar abu= ((C-A))/((B-A))   X 100 %
Keterangan:
A = Berat krus kosong
B = Berat krus + sampel sebelum dipijar
C = Berat krus + sampel setelah dipijar

Pemeriksaan Pendahuluan Kandungan Kimia
Ekstrak kental daun jati cina  (cassia senna L) dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 5 ml aquadest dan 5 ml kloroform asetat kemudian dikocok, dibiarkan sampai terbentuk 2 lapisan air dan kloroform.

Uji Flavonoid (Metode “Sianidin Test”)
Ambil lapisan air 1-2 tetes, teteskan pada plat tetes lalu tambahkan serbuk Mg dan HCl (p), terbentuknya warna merah menandakan adanya flavonoid (Harborne, 1987).

Uji Fenolik
Ambil lapisan air 1-2 tetes, teteskan pada plat tetes lalu tambahkan pereaksi FeCl3, terbentuknya warna biru menandakan adanya kandungan fenolik (Harborne, 1987).

Uji Saponin
Ambil lapisan air, kocok kuat-kuat dalam tabung reaksi, terbentuknya busa yang permanen (± 15 menit) menunjukkan adanya saponin (Harborne, 1987).

Uji Terpenoid dan Steroid (Metode “Simes”)
Ambil sedikit lapisan kloroform tambahkan norit kemudian di filtrasi, hasil dari filtrasi tambahkan H2SO4 (p),   tambahkan asam asetat anhidrat, terbentuknya warna biru ungu menandakan adanya steroid, sedangkan bila terbentuk warna merah menunjukkan adanya terpenoid (Harborne, 1987).
Uji Alkaloid (Metode “Culvenore-Fristgerald”)
Ambil sedikit lapisan kloroform tambahkan 10 ml kloroform amoniak 0,05 N, aduk perlahan tambahkan beberapa tetes H2SO4 2N kemudian dikocok perlahan, biarkan memisah. Lapisan asam ditambahkan beberapa tetes pereaksi mayer, reaksi positif alkaloid ditandai dengan adanya kabut putih hingga gumpalan putih (Harborne, 1987).

Persiapan Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan yang berumur ± 2 bulan dengan berat badan antara 20-30 gram, dikelompokkan secara random menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 3 ekor. Mencit diaklimatisasi selama seminggu dengan lingkungan percobaan. Mencit yang digunakan adalah mencit yang sehat dan tidak menunjukan penurunan berat badan berarti (deviasi maksimal 10%) serta secara visual menunjukan prilaku yang normal.

Penggunaan Dosis
Pemakaian empiris daun jati cina kering yaitu : 2 sendok teh daun kering jati cina.
Berat 2 sendok teh daun kering jati cina = 1,6 gram
Hasil Konversi ke Mencit   = 1,6 gram x 0,0026
   = 0,00416 g/ 20gBB
   = 0,208 g/kgBB
   = 208 mg/kgBB
   = 200 mg/kgBB (Hasil Pembulatan)

Dosis yang digunakan terdiri atas 3 variasi dosis yaitu:
200 mg/kgBB
400 mg/kgBB
800 mg/kgBB

Perhitungan Dosis:
Dosis Bisakodil
Bisakodil yang digunakan sebagai pembanding berdasarkan penggunaan pada manusia adalah 10 mg sekali pakai untuk dewasa kemudian dikonversikan ke mencit dengan berat 20 gram: 0,0026 x 10 mg = 0,026 mg/20 gBB.

Pembuatan Sediaan Uji
Pembuatan Larutan Uji
Sediaan uji dibuat dengan cara disuspensikan ekstrak etanol daun kering jati cina dengan Na CMC 0.5 %. Caranya Na CMC ditimbang sebanyak 50 mg dikembangkan dengan air panas 20 x berat Na CMC dan digerus homogen. Kemudian dimasukkan ekstrak etanol daun kering jati cina yang telah ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang dibuat, kemudian dicukupkan volume larutan dengan aquadest 10 ml.

Pembuatan Suspensi Norit
Dengan mensuspensikan 5% norit dalam 0,5% Na CMC dengan cara: norit ditimbang sebanyak 500 mg dan Na CMC 50 mg kemudian norit disuspensikan ke dalam NaCMC yang telah dikembangkan dengan air panas dan kemudian diencerkan dengan air sampai volume 10 ml.

Pembuatan Larutan Pembanding Bisakodil
Tablet dulcolax® mengandung 10 mg bisakodil digerus hingga menjadi serbuk. Serbuk disuspensikan dengan Na CMC 0,5% yang telah dikembangkan, digerus sampai homogen dan dicukupkan dengan air sampai volume 10 ml.

Uji Efek Laksatif
Metoda pola defekasi
Mencit yang digunakan memiliki karakterisasi feses normal. Satu jam sebelum percobaan mencit dipuasakan. Mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 ekor:
Kelompok I : Hewan diberi NaCMC sebagai kontrol
Kelompok II    : Hewan diberi ekstrak dosis 200mg/kg BB
Kelompok III : Hewan diberi ekstrak dosis 400mg/kg BB
Kelompok IV : Hewan diberi ekstrak dosis 800mg/kg BB
Kelompok V : Hewan diberi suspensi pembanding dulcolax®
Semua hewan diberi perlakuaan sesuai kelompoknya masing-masing dan rute pemberian secara peroral. Pengamatan dilakukan selama 6 jam dengan interval 60 menit. Parameter yang diamati meliputi karakteristik feses yaitu:

Frekuensi defekasi
Semua hewan diberi perlakuaan sesuai kelompoknya masing-masing dan rute pemberian secara peroral. kemudia dilakukan pengamatan dengan melihat berapa sering mencit BAB setiap interval waktu 60 menit selama 6 jam.

Konsistensi 
Dengan melihat diameter rembesan feses pada kertas saring. Pengamatan dilakukan sejak mencit diberi ekstrak kering daun jati cina hingga mencit BAB, penilaian konsistensi feses dibagi menjadi (Dini paramita et al 2010) :

0 : tidak BAB
1 : feses keras (K) dengan   diameter kertas saring ˂ 0,5 cm
2 : feses lembek (L) dengan diameter kertas saring 0,5-1 cm
3 : feses lembek cair (LC) dengan diameter kertas saring ˃ 1 cm

Feses normal pada mencit adalah berwarna coklat gelap, berbentuk seperti beras dank eras. Berat feses rata-rata mencit per hari adalah 1,0-1,5 g (Inglis, 1980).

Berat feses 
Semua hewan diberi perlakuaan sesuai kelompoknya masing-masing dan rute pemberian secara peroral. feses yang keluar dalam interval waktu yang telah ditentukan yaitu setiap 60 menit selama 6 jam  akan ditampung dengan kertas saring kosong ,kemudian feses nya ditimbang.

Metoda Transit Intestinal
Mencit diistirahatkan selama 2 minggu. Setelah itu baru dilakukan pengujian metoda transit intestinal. Mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 ekor:
Kelompok I : Hewan diberi NaCMC sebagai kontrol (-)
Kelompok II : Hewan diberi ekstrak dosis 200 mg/kg BB
Kelompok III : Hewan diberi ekstrak dosis 400 mg/kg BB
Kelomok   IV      : Hewan diberi ekstrak dosis 800 mg/kg BB
Kelompok V : Hewan diberi suspensi pembanding dulcolax®
Setiap hewan percobaan diberikan secara peroral ekstrak daun kering jati cina sesuai dengan dosis yang direncanakan pada masing-masing kelompok diatas dengan volume pemberian 1% BB. Setelah 45 menit, hewan diberikan secara per oral suspensi norit dengan volume 1% BB. Setelah 20 menit kemudian hewan dikorbankan secara dislokasi leher. Usus hewan percobaan dikeluarkan secara hati-hati tanpa peregangan, kemudian dipaparkan pada meja bedah. Panjang usus yang dilalui norit mulai dari pilorus sampai ujung akhir warna hitam diukur, demikian juga dengan panjang usus keseluruhan mulai dari pilorus sampai ke spinter iliosekalis.
Berikutnya ratio antara panjang usus yang dilalui norit dengan panjang seluruh usus untuk masing-masing mencit dihitung.

Rumus:

Rasio lintasan norit  = (jarak usus yang ditempuh norit)/(panjang usus keseluruhan)  X 100%


Pengolahan Data

Data yang diperoleh kemudian diolah secara ANOVA satu arah untuk metoda lintasan norit. Sedangkan untuk metoda pola defekasi diolah secara ANOVA dua arah. Uji lanjut digunakan Uji Lanjut Berjarak Duncan (Duncan New Multiple Range Test), menggunakan software statistic SPSS 16.0 for Windows Evaluation.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Hasil maserasi 1 kg daun jati cina (Cassia senna L) didapatkan ekstrak kental sebanyak 207,22 g dengan rendemen sebesar 20,722 %.
Hasil pemeriksaan organoleptis ekstrak etanol daun jati cina berbentuk cairan kental, berwarna hijau kehitaman, dan berbau khas.
Hasil pemeriksaan susut pengeringan ekstrak kental 8,70 % , dan hasil pemeriksaan kadar abu 6,031 % (Lampiran 6. Tabel 6).
Hasil pemeriksaan pendahuluan kandungan kimia ekstrak etanol daun jati cina mengandung flavonoid, alkaloid, fenolik, saponin dan steroid (Lampiran 6. Tabel 3 & 4).
Hasil uji efek laksatif ekstrak etanol daun jati cina dengan metoda pola defekasi didapatkan rata-rata sebagai berikut:
Pada pengamatan frekuensi defekasi selama 6 jam adalah kontrol sebanyak 6,66 kali, dosis 200 mg/KgBB sebanyak 11,33 kali, dosis 400 mg/KgBB sebanyak 15,33 kali, dosis 800 mg/KgBB sebanyak 18 kali, dan pembanding sebanyak 13,66 kali (Lampiran 11).
Pada pengamatan konsistensi feses selama 6 jam mendapatkan skor:  kontrol 1, dosis 200 mg/KgBB 1,2, dosis 400 mg/KgBB 1,46 , dosis 800 mg/KgBB 2,43 , dan pembanding 2,06 (Lampiran 11).
Pada pengamatan berat feses selama 6 jam, untuk kontrol beratnya 0,0253 g, dosis 200 mg/KgBB beratnya 0,0345 g, dosis 400 mg/KgBB beratnya 0,0461 g, dosis 800 mg/KgBB beratnya 0,0742 g, dan pembanding beratnya 0,0579 g (Lampiran 11).
Hasil uji efek laksatif ekstrak etanol daun jati cina dengan metoda transit intestinal didapatkan persentase lintasan  norit rata-rata pada kontrol negatif  69,9 %, dosis 200 mg/KgBB 79.16 %, dosis 400 mg/KgBB 80.85%, dosis 800 mg/KgBB 89,48 %, dan pembanding 83,80 % (Lampiran 12).

Pembahasan
Ekstrak etanol daun jati cina diperoleh dengan melakukan ekstraksi sampel yang dilakukan dengan metoda maserasi. Metoda ini dipilih karena pengerjaan lebih mudah, tidak memerlukan perlakuan khusus dan tidak ada pemanasan sehingga kerusakan zat-zat akibat suhu tinggi dapat dihindari (Djamal,1990).

Ekstraksi sampel dilakukan dengan menggunakan metoda maserasi. Maserasi adalah proses merendam sampel dalam pelarut yang sesuai dalam wadah tertentu. Hal ini dilakukan karena cara ini lebih sederhana, tidak memerlukan peralatan khusus dan tidak memerlukan pemanasan sehingga dapat mengatasi kemungkinan adanya senyawa yang terurai atau menguap akibat pemanasan. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah etanol 70 % karena pelarut ini relatif kurang toksik dibanding pelarut organik lainnya. Disamping itu juga berdasarkan sifatnya sebagai pelarut universal yang dapat melarutkan hampir semua senyawa organik di dalam tumbuhan baik polar maupun non polar serta kemampuannya untuk mengendapkan protein dan menghambat kerja enzim sehingga zat aktif dapat terhindar dari proses hidrolisis dan oksidasi (Djamal, 1990).

Proses ekstraksi dengan cara maserasi ini dilakukan perendaman selama 5 hari dengan 3 kali pengulangan, dimana selama perendaman sampel sesekali diaduk untuk mempercepat penetrasi pelarut ke dalam sampel sehingga komponen-komponen kimia didalamnya akan terlarut. Proses maserasi dilakukan di tempat yang terlindung dari cahaya dengan tujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya degradasi struktur terutama untuk golongan senyawa non polar dan kurang stabil terhadap cahaya. Maserat hasil maserasi yang telah disaring dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental etanol yang tidak dapat dituang (Depkes R.I, 2000). Ekstrak yang didapat dilakukan pemeriksaan pendahuluan, meliputi organoleptis, uji fitokimia, susut pengeringan dan kadar abu.

Berdasarkan analisis fitokimia dalam daun jati cina terkandung antrakinon (sennosida,tannin, flavonoid, naftalen, triterpen,kariofilen, katekin, farnesol, friedelin, asam kaurenat, prekosen, prosianidin I, prosianidin B-2, prosianidin B-5, prosianidin C-1, sitosterol, friedelin-3a-ol, sterol, alkaloid, karotenoid). Senyawa golongan glikosida antrakinon pada kandungan jati cina seperti sennosida, aloe emodin, rhein dan krisofanol yang memiliki aktifitas laksatif. Sennosida merupakan glikosida golongan antrakinon yang memiliki aktifitas paling aktif sebagai laksatif, dimana didalam tubuh mengalami reaksi hidrolisis enzymatis dan reduksi oleh bakteri flora usus menjadi rheinantronn. Kandungan utama daun jati cina yaitu senosida A dan enosida B. Senosida A didalam tubuh akan mengalami sutau reaksi hidrolisis enzymatik dan reduksi oleh bakteri flora usus (entamoeba coli) menjadi rhein antron. Rhein antron ini merupakan senyawa yang menginduksi sekresi air dan mencegah reabsorbsi air dalam saluran pencernaan, sehingga dapat digunakan dalam upaya penyembuhan konstipasi akut (Mun’in & Hanani, 2011).

Hasil dari uji organoleptis dari ekstrak daun jati cina diperoleh berupa ekstrak kental tidak dapat dituang, berwarna hijau kehitaman berbau khas. Pada hasil susut pengeringan ekstrak didapatkan 8,70%, sedangkan kadar abu ekstrak didapatkan 6,031 %. Dimana hasil ini telah sesuai dengan yang tertera pada Monographs On Selected Medical Plants (WHO, 1999) yaitu <12 %. Sedangkan pada uji fitokimia di dapatkan bahwa ekstrak daun jati cina ini positif adanya senyawa flavonoid, fenol, saponin dan steroid, berbeda dengan literatur dimana tidak tedapat fenol dan steroid. Pada jurnal (Agarwal&Bajpai, 2010 ; Kokate&Kar, 2003) daun jati cina mengandung flavonoid (kaempferol),  saponin, glikosida, senosida A, senosida B, senosida C, senosida D, alkaloid, tannin, , asam salisilat,  asam kaurenat, diglucoside, lidah-emodin, 8-glukosida diglucoside, anthrone dan Rhein, napthalene glikosida (tinnevellin glikosida dan 6-hidroksi glikosida musizin), pitosterol, alkohol myricyl, asam chrysophenic, resin dan kalsium oxalate.  Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan, karena mencit lebih mudah dalam penanganan disamping harga murah dan beradaptasi dengan cepat pada lingkungan percobaan dibandingkan hewan lainnya seperti tikus dan kelinci. Pemilihan jenis kelamin jantan hanyalah untuk keseragaman kondisi dalam penelitian.

Metoda yang digunakan pada penelitian ini yaitu metoda pola defekasi dan metoda transit intestinal. Digunakannya dua metoda dengan tujuan untuk memperkuat hasil penelitian dan melengkapi data tentang laksatif yang didapat. Pada metoda transit intestinal, digunakan norit sebagai indikator berwarna hitam secara visual dan merupakan kimus yang utuh sampai ke kolon karena tidak diabsorbsi.

Ekstrak etanol daun jati cina diharapkan dapat mengobati konstipasi pada hewan percobaan. Untuk melihat kekuatan pengaruh ekstrak etanol daun jati cina, maka digunakan Bisacodyl sebagai pembanding. Bisacodyl bekerja merangsang secara langsung dinding usus dengan akibat peningkatan peristaltik dan pengeluaraan isi usus dengan cepat (Dipiro et al , 2011).

Penggunaan Na CMC sebagai pensuspensi dan pengemulsi, karena Na CMC dapat menghasilkan suspensi dan emulsi yang stabil, kejernihannya tinggi, bersifat inert sehingga tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Wade & Paul, 1994). Sebelum dilakukan pengujian, mencit diaklimatisasi selama seminggu dengan lingkungan percobaan tujuannya untuk menghindari mencit stres yang dapat mempengaruhi pengamatan.

Pada penelitian ini menggunakan variasi dosis 200, 400, 800 mg/KgBB dan pembanding ( Bisacodyl ). Pemilihan variasi dosis tersebut berdasarkan empiris. Kemudian dilakukan pengujian dengan dua metoda yaitu, pertama dengan metoda pola defekasi dimana frekuensi defekasi yang lebih banyak diperlihatkan oleh dosis 800 mg/KgBB sebanyak 41 kali, konsistensi feses yang lembek diperlihatkan oleh dosis 800 mg/KgBB dengan skor 2,43 dan berat feses yang lebih berat juga diperlihatkan oleh dosis 800 mg/KgBB dengan berat 0,0742 g (Lampiran 11).

Kedua dengan metoda transit intestinal didapatkan hasil, yaitu persentase lintasan  norit yang lebih panjang diperlihatkan oleh dosis 800 mg/KgBB dengan persentase lintasan 89,48 % (Lampiran 12).
Setelah dilakukan analisa data terhadap hasil pengamatan frekuensi defekasi, pada hewan percobaan dengan metoda analisa varian (ANOVA) dua arah (SPSS 16.0) pada data kelompok diperoleh hasil bahwa terlihat perbedaan  hasil secara signifikan yang dinyatakan  p<0.05 , tetapi pada data jam, dan kelompok dengan jam diperoleh hasil perbedaan yang tidak signifikan yang dinyatakan p>0.05.
Pada uji lanjutan Duncan dapat dilihat bahwa dosis 800 tidak berbeda  nyata dengan dosis 400 dan pembanding, tetapi berbeda  nyata dengan dosis 200 dan kontrol negatif. Pada dosis 400 tidak berbeda nyata dengan pembanding, dosis 200 dan dosis 800, tetapi berbeda nyata dengan kontrol negatif. Pada dosis 200 tidak berbeda nyata dengan pembanding, dosis 400 dan dosis 800, tetapi berbeda nyata dengan kontrol negatif.

Setelah dilakukan analisa data terhadap hasil pengamatan transit intestinal dengan metoda analisa varian ANOVA satu arah diperoleh hasil bahwa terlihat perbedaan signifikan yang dinyatakan p<0,05. Dari uji Duncan dapat dilihat bahwa dosis 800 tidak berbeda nyata dengan pembanding dan dosis 400, tetapi berbeda nyata dengan dosis 200 dan kontrol negatif. Sedangkan pembanding tidak berbeda nyata dengan dosis 400 dan 200 ,tetapi berbeda nyata dengan kontrol negative. Dosis 400 tidak berbeda nyata dengan pembanding , 800 dan 200, tetapi berbeda nyata dengan kontrol negative. Dosis 200 tidak berbeda nyata dengan 400 dan pembanding tetapi berbeda nyata dengan dosis 800 dan kontrol negatif.

Setelah dilakukan analisa data terhadap hasil pengamatan berat feses  pada hewan percobaan dengan metoda analisa varian (ANOVA) dua arah (SPSS 16.0) pada data kelompok diperoleh hasil bahwa terlihat perbedaan  hasil secara signifikan yang dinyatakan  p<0.05 , tetapi pada data jam, dan kelompok dengan jam diperoleh hasil perbedaan yang tidak signifikan yang dinyatakan p>0.05.
Pada uji lanjutan Duncan dapat dilihat bahwa paa dosis 800 tidak berbeda nyata dengan pembanding, terapi berbeda nyata dengan dosis 400, 200 dan control negative. Pada dosis 400 tidak berbeda nyata dengan pembanding, dosis 200 dan control negative, tetapi berbeda nyata dengan dosis 800. Pada dosis 200 tidak berbeda nyata dengan dosis 400 dan kontrol negatif, tetapi berbeda nyata dengan pembanding dan dosis 800.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa efek laksatif dari ekstrak etanol daun jati cina dosis 800 mg/KgBB lebih tinggi bila dibandingkan dengan dosis 200, 400 mg/Kg dan kontrol negative, serta lebih tinggi dari pembanding (Bisacodyl). Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan semakin tinggi dosis pemberian ekstrak etanol daun jati cina maka semakin tinggi efek laksatif pada hewan percobaan. Dari 4 dosis ekstrak daun jati cina  yang diujikan ternyata makin besar dosis makin bertambah besar berat fases dan frekuensi defikasi.

Dengan demikian, penggunaan ekstrak etanol daun jati cina (Cassia senna L) dalam rentang dosis 200, 400, dan 800 mg/KgBB memberikan efek laksatif terhadap hewan percobaan. Dengan meningkatnya dosis efek laksatif dari daun jati cina juga semakin meningkat.
Berdasarkan parameter pada uji statistik ANOVA dimana parameter yang dilihat yaitu transit intestinal, dosis yang efektif adalah dosis 200mg/kgBB, karena berdasarkan Duncan dosis 200 dan 400mg/kgBB sebanding dengan dosis pembanding, sehingga dosis terkecil yang sudah memberikan efek pada hewan percobaan dianggap sebagai dosis yang efektif.

Bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan Febriani (2014) tentang efek laksatif ekstrak etanol daun kate mas , dengan menggunakan metoda yang sama , hasil lebih baik di tunjukkan oleh ekstrak etanol daun jati cina, dimana dengan dosis terkecil sudah memberikan efek yang efektif pada hewan percobaan yaitu 200mg/KgBB, sedangkan dosis efektif pada penelitian ekstrak etanol daun kate mas ditunjukkan pada dosis 700mg/KgBB.
Berdasarkan pada hasil penelitian ini dapat memperkuat penggunaan daun jati cina (Cassia senna L) untuk mengatasi laksatif oleh masyarakat

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Dari hasil penelitian ini telah terbukti bahwa ekstrak etanol daun jati cina menunjukkan efek laksatif  pada hewan percobaan pada mencit putih jantan, dimana dapat meningkatkan frekuensi defekasi dan meningkatkan berat feses serta memperpanjang  lintasan norit pada usus.
Setelah penelitian ini selesai dilakukan maka dapat diambil kesimpulan, terdapat hubungan yang saling berpengaruh satu sama lain antara   peningkatan dosis dengan efek laksatif yang ditimbulkan dari pemberian ekstrak etanol daun jati cina  dalam  rentang dosis 200, 400 dan 800 mg/KgBB, dimana semakin tinggi dosis yang diberikan akan semakin tinggi pula efek laksatif yang terjadi. Efek laksatif yang lebih efektif diberikan oleh ekstrak etanol daun jati cina dosis 200 mg/KgBB yang lebih efektif efeknya dari dosis 400, 800 KgBB dan pembanding.


DAFTAR PUSTAKA

Agarwal, V. Bajpai. M. 2010 “Pharmacognostical and Biological studies on senna &its” Delhi-meerut Road, Ghaziabad, India
Atal CK, Kapoor BM (1982). Cultivation and utilization of Medicinal Plants.RRL,Jammu Tawi, India.
Departemen Kesehatan R.I., 1995, Farmakope Indonesia ed. IV, Jakarta, Indonesia.

Departemen Kesehatan R.I., 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Tradisional, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; Jakarta.

Dini paramita defrin, santun bhekti Rahimah, Lelly Yuniarti. 2010, efek anti diare ekstrak air umbi sarang semut (Myrmecodia pendens) pada mencit putih (Mus musculus), Prosiding SNaPP2010 Edisi Eksakta ISSN : 2089-3582.

Dipiro, J, T., talbert, R, L., Yee, G.C., Matzke, G, R., Wells, B.G., Posey, L,M., 2011.Pharmacoteraphy: A Pathophysiology Approach. 8th editor, Mc Graw Hill, New York.

Djamal, R., 1990, Prinsip-prinsip Bekerja dalam Kimia Bahan Alam, FMIPA, UNAND; Padang.
Harborne, J.B., 1987, Metoda Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan, Terbitan ke-2, Diterjemahkan oleh Kokasih Padmawinata dan Iwang Sodiro, Penerbit ITB; Bandung
Inglis, J. K. 1980. Introduction to laboratory Animal Science and Technology. Pergamons press Ltd., Oxford.

Mun’in & Hanani E., 2011. Fitoterapi Dasar, Dian Rakyat, Jakarta.

Sundari, D., dan Wien W, 2010, Efek Laksatif Jus Daun Asam Jawa ( Tamarindus Indica Linn) Pada Tikus Putih Yang Diinduksi Dengan Gambir, Media Iitbang Kesehatan Volume XX Nomor 3

Wade, A and Paul, J.W., 1994, Handbook of Pharmaceutical Excipient, edition                 Published by American Pharmaceutical Association and Pharmaceutical Society of Great Britian; London
WHO, 1999, Monographs On Selected Medical Plants, Volume 1, Geneva

Wednesday, December 28, 2016

Pengaruh Vaksinasi Influenza Pada Diabetes Melitus

Pengaruh Vaksin Influenza Pada Diabetes Melitus Pengaruh Vaksin Influenza Terhadap Kesehatan Penderita Diabetes munisasi  vaksin  jadwal imunisasi  vaksin hepatitis b  imunisasi hepatitis b  vaksin hpv  vaksin kanker serviks  lansia  imunisasi influenza  imunisasi kanker serviks  vaksin hepatitis  rumah vaksin  imunisasi hepatitis  imunisasi hepatitis b pada bayi  imunisasi hepatitis a  vaksin hepatitis a  vaksin serviks  vaksin hiv  suntik kanker serviks  jenis vaksin  jenis imunisasi  kanker serviks  kangker servik  kanker mulut rahim  imunisasi hpv  suntik serviks  vaksin bayi  rumah imunisasi  biaya vaksin hepatitis b  imunisasi serviks  obat diabetes  penyakit diabetes  obat herbal diabetes  diabetes militus  penyakit gula  obat tradisional diabetes  penyakit diabetes melitus  gejala diabetes  pengobatan diabetes  obat penyakit gula  obat diabetes alami  obat diabetes melitus  obat diabetes herbal  penyakit gula darah  obat diabetes tradisional  obat alami diabetes  obat herbal untuk diabetes  gejala penyakit diabetes  gejala penyakit gula  pengobatan diabetes melitus  obat penyakit diabetes  herbal untuk diabetes  obat untuk diabetes  obat gula darah  cara mengobati penyakit diabetes  diabetes millitus  obat herbal diabetes melitus  penyembuhan diabetes  obat tradisional penyakit gula  obat tradisional untuk diabetes

Apotekers.com Diabetes merupakan satu tantangan global yang harus diperhatikan betul. Terlepas dari itu, peneliti terus menerus menentukan pola serapan perawatan kesehatan diantara orang-orang dengan diabetes sehingga mereka dapat mengidentifikasi hambatan apa saja yang dapat memperberat penyakit diabetes tersebut. Rawat inap dan bahkan kematian lebih mungkin terjadi antara individu dengan diabetes ketika mereka terpapar influenza dan oleh karena itu serapan vaksinasi influenza merupakan area yang penting dalam pengawasan pasien dibetes.

Para peneliti dari Madrid, Spanyol melihat adanya serapan vaksinasi influenza pada pasien dengan diabetes menemukan karakteristik yang akan membantu dalam proses pencegahan penyakit akibat influenza. Hal lain yang juga diperiksa antara lain kepatuhan dan ketidakpatuhan pasien,  dan juga pekerjaan mereka, hal ini diterbitkan didalam jurnal Vaccine, menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki pengaruh untuk perbaikan penyakit ketika diberikan vaksinasi influenza.

Tim menggunakan data dari MADIABETES Study, berbasis perawatan-studi primer yang telah dilakukan pada tahun 2013 kepada penderita diabetes yang sudah menikah dengan melihat catatan klinis terkomputerisasi dan juga berdasarkan hasil survei melalui telepon. Tim yang dipilih pasien rawat jalan dengan diabetes tipe 2. Di antara pasien peserta, 65,7% diimunisasi dengan vaksin influenza pada tahun 2013.

Selama bertahun-tahun, melihat perilaku setelah vaksinasi terhadap pasien sangatlah bervariasi. Antara 2007 dan 2013 (periode 7 tahun), pasien telah menerima rata-rata 3,24 vaksinasi untuk flu. Hanya sekitar 20% dari peserta belum divaksinasi sama sekali dalam tahun-tahun tersebut, dan 23,3% telah divaksinasi terhadap pneumococcus juga. Pasien yang lebih tua menerima rekomendasi berdasarkan usia mengikuti saran dokter.

Pasien dengan komplikasi penyakit kronis pernapasan dan pernah melakukan vaksinasi pneumokokus sebelumnya, lebih banyak berulang kembali ke penyedia perawatan primer. Pasien dengan nilai HbA1c tertinggi paling mungkin dan diharuskan untuk divaksinasi. Hal ini menjadi perhatian khusus yang menunjukkan bahwa orang-orang sering mengabaikan diabetes mereka dan  juga masalah kesehatan lain mereka yang dapat memperburuk kesehatan.

Pada hasil penelitian menunjukan pria yang menolak vaksinasi ada sekitar (41,6%) hal ini dikarenakan bahwa mereka tidak percaya akan resiko yang terjadi jika terkena influenza pada penderita diabetes . Perempuan sebanyak (32,53%) menolak dengan alasan paling sering karena mereka takut efek samping.

Para peneliti menunjukkan bahwa serapan penggunaan imunisasi vaksin influenza perlu untuk ditingkat sesuai yang diinginkan. Pasien yang menderita diabetes perlu lebih dan haurslah sering diingatkan bahwa mereka harus menerima suntikan vaksinasi influenza. Dan hendaklah semua profesional perawatan kesehatan harus mendorong pasien diabetes untuk mempertimbangkan vaksinasi influenza. Karena bahaya yang dapat ditimbulkan ketika seseorang penderita diabetes terkena flu.

Sumber : http://www.pharmacytimes.com/resource-centers/diabetes/flu-shots-are-a-must-for-those-with-diabetes

Monday, December 26, 2016

Daftar Nama Obat Yang Susah Untuk Disebutkan OLeh Seorang Apoteker

Daftar Nama Obat Yang Susah Untuk Disebutkan OLeh Seorang Apoteker obat herbal  obat tradisional  obat herbal diabetes  obat batuk  jamu kuat  pengobatan tradisional  obat batuk berdahak  pengobatan herbal  batuk  obat alami  obat batuk herbal  obat herbal keputihan  obat obat tradisional  obat tradisional kolesterol  jamu kuat lelaki  obat kulit  pengobatan  jamu kuat pria  obat kolesterol tradisional  ramuan obat tradisional  obat obat herbal  jamu kuat alami  jamu kuat tradisional  obat herbal alami  obat tahan lama  obat alami kolesterol  obat alternatif  kuat lelaki  obat pria  jamu kuat pria tradisional  nama bayi  nama anak  nama bayi laki laki islam  kumpulan nama bayi  kumpulan nama bayi laki laki  nama anak laki laki islami  nama bayi laki  nama anak laki laki islam  nama anak islam  nama2 bayi  nama baby  nama2 bayi perempuan  daftar nama bayi  nama bayi laki laki modern  kumpulan nama nama bayi  nama bayi laki laki islam modern  nama islami  nama anak islami  daftar nama bayi laki laki  daftar  nama bayi laki islam  nama anak bayi  kumpulan nama anak  kumpulan nama  nama islam bayi laki laki  kumpulan nama bayi islam  nama anak laki laki modern  nama anak laki laki beserta artinya  nama bayi beserta artinya  nama bayi laki2 islam  Daftar nama apoteker  farmasi lowongan kerja apoteker  lowongan kerja asisten apoteker  lowongan apoteker  lowongan asisten apoteker  lowongan kerja asisten apoteker terbaru  loker apoteker  loker asisten apoteker  lowongan kerja farmasi  lowongan asisten apoteker terbaru  loker asisten apoteker terbaru  lowongan kerja apoteker terbaru  lowongan apoteker terbaru  lowongan farmasi  lowongan pekerjaan asisten apoteker  lowongan kerja apotek  asisten apoteker  loker asisten apoteker di rumah sakit  lowongan pekerjaan apoteker  loker apoteker terbaru  loker aa  lowongan kerja untuk asisten apoteker  loker farmasi  seminar farmasi  lowongan kerja farmasi terbaru  lowongan kerja asisten  pekerjaan farmasi  apoteker cari kerja  apoteker online  pekerjaan apoteker  lowongan kerja untuk apoteker

Apotekers.com Seorang farmasi dituntut harus mengetehui berbagai macam obat, baik itu nama, mekanime kerjanya, bentuk sediaan, harus tau cara pembuatanya sampai terbentuk sedian farmasi dan masih banyak yang lainya. Namun tentunya kesemua hal tersebut tidaklah mudah karena harus membutuhkan keterampilan dan kemampuan yang khusus dalam segala hal tersebut.

Seperti halnya dalam pengucapan nama obat banyak sekali seorang Farmasis ataupun itu Apoteker sulit dalam mengucapkan nama obat tersebut. Sehingga memerlukan latihan khusus dalam pengucapan obat dan penghafalan nama obat tersebut.

Berikut merupakan adalah daftar obat dengan nama yang memerlukan latihan khusus dalam pengucapan dan penghafalannya :

1. Talimogene Laherparepvec
Pada bulan Oktober 2015 yang lalu, talimogene laherparepvec (Imlygic) menjadi obat pertama yang disetujui FDA untuk terapi virus oncolytic diindikasikan untuk pengobatan lesi melanoma di kulit dan kelenjar getah bening. Obat ini diberikan dengan cara disuntikkan langsung ke dalam lesi melanoma, di mana obat ini mereplikasi sel kanker dan menyebabkan  pecah dan matinya sel kanker.

Sedikit membantu anda jika bertemu dengan obat ini, bagaimana mudah dalam pengucapannya dan pengafalannya. Talimogene laherparepvec (tal IM oh Jeen la dia pa REP Vek).

2. Botulinum Toksin: OnabotulinumtoxinA, AbobotulinumtoxinA, RimabotulinumtoxinB, IncobotulinumtoxinA

Botulinum tipe toksin A dan B dapat digunakan untuk pengobatan sindrom upper motor neuron, hiperhidrosis fokal, migrain kronis, blepharospasm, strabismus, dan cervical dystonia, juga bisa digunakan untuk indikasi lain. Dan juga banyak digunakan dalam perawatan kosmetik.
Walaupun banyak fungsinya tapi obat ini susuah untuk dicupakan, mari kita lihat bagaimana pengucapannya :

OnabotulinumtoxinA (oh nuh BOT yoo lin num Toks di aye)
AbobotulinumtoxinA (aye bo BOT yoo lin num Toks di aye)
RimabotulinumtoxinB (rime eh BOT yoo lin num Toks di bee)
IncobotulinumtoxinA (di kuh BOT yoo lin num Toks di aye)


3. Idarucizumab

Pada bulan Oktober 2015, FDA menyetujui obat idarucizumab (Praxbind) yang dapat digunakan pada pasien yang memakai antikoagulan dabigatran (Pradaxa) selama situasi darurat di mana ada kebutuhan untuk membalikkan efek pengencer darah obat.

Pengucapan
Idarucizumab (mata da roo siz uh mab)

Tidak hanya obat tersebut diatas, namun obat lainya masih banyak yang susah untuk diucapkan. Tidak hanya Farmasis ataupun Apoteker pasien sering berjuang dengan mengucapkan kedua obat generik ataupun obat paten, tapi tentunya mereka tidak sendirian. Dengan ribuan obat yang disetujui FDA di pasar ataupun obat lain didunia yang telah disetujui secara klinis, bisa sulit untuk Farmasis dan Apoteker.

Untuk itu semua hendaknya Farmasis dan Apoteker tetap memperbarui pada pengucapan nama obat sehingga dapat memberi tau kepada pasien dan membantunya dalam pengucapan obat tersebut. Sebab banyak kita jumpai terkadang pasien susah dalam pengucapan obat yang membuat seorang Farmasis kebingungan apa yang ditujukan pasien.

Sumber : http://www.pharmacytimes.com/contributor/timothy-o-shea/2016/02/12-difficult-to-pronounce-drug-names

Thursday, December 22, 2016

Tanaman Herbal Sebagai Bahan Baku Obat

Tanaman herbal Sebagai Bahan Baku Obat bahan baku obat  tanaman herbal tanaman obat  obat tradisional  tumbuhan obat  tanaman  tanaman obat tradisional  tanaman obat herbal  obat obatan tradisional  obat tradisional kolesterol  obat obatan herbal  tanaman obat diabetes  tanaman herbal untuk diabetes  jenis tanaman obat  tanaman obat obatan  tanaman obat asam urat  tanaman herba  tumbuhan herbal  tumbuhan obat tradisional  obat obat tradisional  jenis jenis tanaman obat  obat tanaman  tanaman untuk obat  tumbuhan untuk obat  herbal diabetes  tanaman obat batuk  tanaman kesehatan  ramuan obat tradisional  obat obat herbal  jenis obat herbal  tanaman obat kanker  pohon obat  ekspor impor  jamu herbal  bahan sabu sabu  tumbuhan obat tradisional  bahan baku herbal  tumbuhan obat  bahan obat  distributor bahan baku farmasi  jenis tanaman obat  industri obat  bahan baku obat tradisional  bahan baku farmasi  sabu sabu terbuat dari apa  obat db  supplier bahan baku farmasi  jenis jenis tanaman obat  apotik kimia farma  bahan baku sabu sabu  kimia farma  bahan pembuat sabu sabu  obat impor  bahan obat tradisional  apotek kimia farma  pohon kina  bagian bagian tumbuhan  obat china  kimia farma apotek  impor bahan baku obat  jenis tumbuhan  bahan baku

Apotekers.com Kebanyakan bahan-bahan baku yang terdapat di Industri Farmasi Nasional didapatkan dari Impor dari berbagai negara didunia ini. Kebutuhan akan dapat memproduksi bahan baku obat sendiri di Indonesia masih kalah saing dengan negara-negara yang telah maju dalam industri farmasi seperti Tiongkok dan India.

Secara keseluruhan Indonesia hanya mampu memenuhi 0,3 persen dalam memproduksi bahan baku obat. Sebuah hal yang sangat kecil tentunya, dan jauh dibandingkan India apalgi Tiongkok yang gencar-gencarnya menanam invstasi dan mengekspor bahan baku obat keseluruh penjuru di dunia ini jelas ketua umum Pharma Material Management Club (PMCC) Kendrariadi Suhanda dalam sesi tanya jawab dengan media di The Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta.

Ujar Kendrariadi industri farmasi tidak akan untung jika bahan baku obat produksi dalam negeri hanya memenuhi kebutuhan Jaminan Kesehatan Nasional saja. Itu berarti industri farmasi hanya terfokus hanya pada kebutuhan dalam negeri saja. Dan seharusnya kita mampu untuk melakukan perubahan dalam memproduksi bahan baku obat.

Dalam menangani masalah tersebut industri farmasi nasional Indonesia melirik produksi dalam negeri dengan tanaman herbal sehingga nantinya dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat. Dapat disadari bahwa dengan kita mampu memproduksi dan memenuhi bahan baku obat secara mandiri akan dapat meningkatkan produksi obat dan perekonomian negara ini.

Sangat disadari bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang subur akan tanaman herbal yang sangat berkahsiat, diharapkan kekuatan Indonesia dalam tanaman herbal dapat digunakan sebagai bahan baku obat dimasa yang akan datang.

Wakil ketua umum PMCC dan Ketua Litbang Perdagangan dan Industri Bahan Baku GP Farmasi Indonesia Vincent Haryanto menjelaskan bahwa dalam hal bahan baku obat-obatan Indonesia kaya akan tanaman herbal. Namun yang menjadi pertanyaan bahwa apakah tanaman herbal dapat digunakan sebagai obat klinik medis.

Hal ini diharakan bahwa kita punya 30 ribu tanaman herbal, 9 ribu sampai dengan 10 ribunya cocok dijadikan bahan obat tapi yang baru dilakukan penelitian tentang khasiatnya baru sekitar 100-200 ribu tanaman herbal. Hal ini harusnya selalu di dukung oleh pemerintah bagi peneliti-peneliti farmasi di Indonesia dalam menjalankan setiap hasil ditelitinya. Karena biaya yang dibutuhkan dalam setiap penelitiannya tidaklah murah. Karena itu kita harus belajar dari negara seperti India yang memperhatikan betul para peneliti dan penemu untuk mengembangkan pengetahuan dibidang obat-obatan.

Tentunya tanaman herbal menjadi sebuah pertimbangan khusus dalam mengatasi solusi yang dialami Indonesia terhadap bahan baku obat supaya tidak bergantung lagi pada bahan baku obat impor dari berbagai negara didunia ini.

Sumber : health.liputan6

Wednesday, December 21, 2016

Perkembangan Bioteknologi Yang Dibutuhkan Oleh Industri Farmasi

Perkembangan Bioteknologi Yang Dibutuhkan Pada Industri Farmasi Bioteknologi bioteknologi  bioteknologi konvensional  bioteknologi modern  contoh bioteknologi konvensional  bioteknologi tradisional  produk bioteknologi konvensional  contoh bioteknologi  mikroorganisme dalam bioteknologi  contoh bioteknologi modern  contoh produk bioteknologi konvensional  artikel bioteknologi  bioteknologi pangan  obat biolo  produk halal  contoh bioteknologi tradisional  produk bioteknologi  alat alat laboratorium biologi  bahan bahan kimia  produk bioteknologi modern  mikroorganisme bioteknologi  biologi  bakteri bioteknologi  pemanfaatan mikroorganisme dalam bioteknologi  bahan kimia dalam rumah tangga  contoh produk bioteknologi modern  peranan mikroorganisme dalam bioteknologi  alat laboratorium biologi  zat kimia  bioteknologi tempe  produk produk bioteknologi konvensional

Apotekers.com Perkembangan obat atau produk biologi perlu untuk terus dilakukan guna mendorong industri-industri farmasi didalam negeri. Diketahui bahwa produk biologi sendiri merupakan produk pangan dengan bahan baku dari makhluk hidup seperti sel dan lainya.

Hal tersebut diungkapan oleh Corporate Management System, Buisnis Development, Regulatory Affair, Strategic Investment Director PT. Kalbe Farma Tbk Sie Djohan. Pada kesempatan tersebut Djohan mengatakan bahwa perkembangan produk biologi diperlukan mengingat kebutuhan obat suatu negara mesti dipenuhi secara mandiri.

Lanjutnya bahwa industri farmasi kita sebagai bangsa besar kebutuhan obat kita dipenuhi secara mandiri. Artinya dalam kondisi apapun obat haruslah tersedia kata dia dalam sebuah Workshop Era Baru Industri Farmasi Di Indonesia Melalui Biosmilar, di Cikarang, Selasa (20/12/2016).

Selain itu perkembangan produk biologi harus dilakukan karena merupakan peluang bisnis yang sangat baik. Pasalnya jelas jika Indonesia terus bersaing dalam perkembangan obat kimia, sulit bersaing terhadap produsen obat negara lain yang tentunya lebih matang dan lebih baik.

Dalam membangun industri farmasi, produk biologi menjadi pilihan, karena untuk hal ini kita masih bisa mengejar ketertinggalan kita dari negara lain. Kalau untuk obat kimia jelas kita jauh ketinggalan oleh negara-negara seperti Cina dan India yang membuat industri farmasi Indonesia susah bersaing dengan negara tersebut.

Lebih lanjut Djohan mengatakan bahwa keuntungan dari produk biologi adalah dalam hal pemenuhan bahan baku yang sangat mudah, sementara untuk produk kimia kita masih banyak mengimpor bahan-bahan bakunya, kemudian tentunya produk biologi memiliki daya jual yang cukup tinggi.

Bukan hanya tentang hal-hal tersebut diatas, tetapi konsumsi obat saat ini juga mengarah kepada produk biologi. Ini juga perkembangan dari tren penggunaan obat biologi yang telah dimulai sejak 10 tahun yang lalu.

Emang proses perkembangan produk biologi tidak serta merta hanya dilakukan oleh industri farmasi saja. Tetapi kerja sama yang baik dengan pemerintah perlu harus dilakukan. Karena perlunya insentif untuk industri obat terutama dalam bidang penelitian yang memang memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga diperlukan perhatian khusus untuk melakukan itu semua.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/2683740/pengembangan-produk-biologi-diperlukan-untuk-industri-farmasi


Thursday, December 15, 2016

FDA Setujui Obat Eksim Terbaru

FDA Setujui  Obat Eksim Terbaru obat eksim  eksim  eksim kulit  penyakit kulit eksim  penyakit eksim  obat eksim kering  eksim kering  obat penyakit eksim  obat eksim basah  obat untuk eksim pada kaki  obat penyakit kulit eksim  dermatitis atopik  obat exim  obat penyakit kulit exim  salep eksim  penyakit dermatitis  obat exim kering  penyakit kulit exim  cara menyembuhkan eksim  cara mengobati eksim  mengobati eksim  obat eksim tradisional  obat dermatitis  obat untuk eksim  penyakit exim  obat tradisional eksim  obat gatal eksim  obat exsim  obat exim basah  penyembuhan eksim

Apotekers.com FDA akhirnya menyetujui Anacor Pharmaceuticals terhadap 'salep crisaborole (Eucrisa) untuk pengobatan eksim baik ringan maupun sedang untuk pasien yang berumur 2 tahun atau lebih tua.


Crisaborole Salep

Obat, phosphodiesterase 4 (PDE-4) inhibitor, secara khusus diindikasikan untuk pengobatan dermatitis atopik dua kali sehari dari , yang merupakan jenis umum dari eksim di mana pasien mengalami kulit merah, gatal, bengkak, dan pecah-pecah. Crisaborole bekerja dengan cara menghambat PDE4 di sel target, yang dapat mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi diduga menyebabkan tanda ataupun gejala dari dermatis atopik.


Penyakit Eksim / Dermatitis Atopik

Eksim adalah sebuah kelainan kulit yang ditandai dengan peradangan atau bengkak serta rasa gatal dan kemerahan, meskipun tidak menular penyakit ini memberikan rasa tidak nyaman terhadap kulit yang terkena. Adapun penyakit eksim yang paling umum terajdi disebut dematitis atopik hal ini sering terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat mempengaruhi orang dewasa.

Badan ini memberikan persetujuan berdasarkan keputusan hasil 2 studi plasebo-terkontrol di mana keamanan dan kemanjuran Eucrisa dievaluasi dalam total 1.522 peserta berusia 2 sampai 79 tahun. Para peneliti menemukan bahwa pasien yang diobati dengan obat ini memberikan respon yang lebih besar dan baik terhadap kulit setelah 28 hari pemberian dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo.

"Persetujuan pada hari rabu 14 Desember tahun 2016 ini memberikan pilihan pengobatan lain untuk pasien-pasien yang berurusan dengan penyakit dermatitis atopik baik ringan maupun sedang ," kata Amy Egan, MD, wakil direktur Kantor FDA Evaluasi Obat, dalam sebuah siaran pers.

Efek samping yang paling umum yang terkait dengan penggunaan Eucrisa adalah rasa sakit atau nyeri pada tempat penggunaannya, termasuk rasa terbakar atau menyengat. FDA mengakui bahwa beberapa peserta uji juga mengalami reaksi hipersensitivitas, dan memperingatkan bahwa Eucrisa tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas tersebut untuk bahan aktif obat, crisaborole.

Sumber : http://www.pharmacytimes.com/product-news/fda-approves-new-eczema-treatment/






Saturday, December 3, 2016

Makanan Pendamping ASI YANG AMAN BERMUTU, DAN BERGIZI TINGKATKAN KUALITAS GENERASI MUDA BANGSA

Makanan PendampingASI YANG AMAN BERMUTU, DAN BERGIZI TINGKATKAN KUALITAS GENERASI MUDA BANGSA BPOM Apoteker farmasi apotek apotek makanan  makanan bayi makanan anak asi


Apotekers.com Asupan gizi yang tepat merupakan hal yang penting untuk tumbuh kembang anak, termasuk pembentukan otaknya. Untuk itu Badan Kesehatan Dunia, WHO telah memberikan panduan makanan bayi dan anak sebagaimana tertuang dalam WHO Complementary Feeding Family Foods for Breastfed Children (2000).

Panduan tersebut diantaranya menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan energi bayi sampai usia 6 (enam) bulan dapat terpenuhi semuanya oleh air susu ibu (ASI). Setelah berusia lebih dari 6 (enam) bulan, pemenuhan energi dari ASI semakin menurun menjadi 70% pada bayi berusia 6 – 12 bulan dan 30% pada anak berusia 12 – 24 bulan. Oleh sebab itu, setelah berusia lebih dari 6 (enam) bulan bayi dan anak hendaklah diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang harus sesuai guna mengisi selisih kebutuhan gizi yang tidak dapat dipenuhi dari ASI.

Makanan pendamping ASI, umumnya dapat disediakan oleh ibu rumah tangga dengan mengolah bahan pangan yang tersedia. Di peredaran banyak tersedia MP-ASI yang diolah oleh industri-industri pangan. Di Indonesia persyaratan MP-ASI, yang merupakan hasil pembahasan seluruh pakar, diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2005 terdiri dari 4 jenis MP-ASI, yaitu MP-ASI bubuk Instan, MP-ASI biskuit, MP-ASI siap santap, dan MP-ASI siap masak.

Standar dan persyaratan MP-ASI jauh relatif lebih ketat dari pangan olahan umumnya, sebab bayi merupakan konsumen yang rentan dan sifat produk MP-ASI termasuk pangan risiko tinggi. Produksi MP-ASI semestinya harus dilakukan secara higienis dan wajib menerapkan beberapa hal seperti, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB). Selain itu, MP-ASI juga harus memenuhi ketentuan label termasuk pencantuman keterangan cara penyiapan/penyajian.

Sebagai institusi pengawas obat dan makanan, Badan POM selalu melakukan pengawalan rantai pengolahan pangan termasuk penetapan standar dan persyaratan keamanan, mutu, dan gizi MP-ASI, pengawasan pre-market (penilaian produk sebelum beredar termasuk pelabelan) dan pengawasan post-market (selama beredar di pasaran). Badan POM terus menerus berkomitmen mewujudkan dan mendukung  berbagai upaya yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat dalam rangka ketersediaan dan keterjangkauan seluruh produk MP-ASI yang aman, bermutu, dan bergizi.

Tidak kalah penting adalah tanggung jawab seluruh pelaku usaha dalam menjamin keamanan dan mutu MP-ASI. Badan POM menegaskan kepada seluruh para pelaku usaha untuk memproduksi dan/atau mengedarkan produk MP-ASI sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika ditemukan proses produksi dan produk yang tidak sesuai atau memenuhi ketentuan maka dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Kepada seluruh masyarakat, Badan POM selalu menyerukan agar menjadi konsumen cerdas. Pastikan Obat dan Makanan yang dikonsumsi aman dengan selalu “Cek KIK”,di pastikan Kemasan dalam kondisi baik, memiliki Izin edar, dan tidak melebihi masa Kedaluwarsa. Sekarang lebih gampang lagi untuk hal legalitas produk dapat dilihat menggunakan aplikasi android “Cek BPOM”. Bagi masyarakat yang mencurigai adanya praktik produksi dan peredaran Obat dan Makanan ilegal, juga dapat melaporkan ke Contact Center Badan POM.

Berikut adalah kontak center Badan POM
Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @bpom_ri, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia. 

Sumber : pom.go.id

Thursday, November 24, 2016

Fungsi Penting Protein HSP60 Dalam Penyembuhan Luka Diabetes

Fungsi Penting Protein HSP60 Dalam Penyembuhan Luka Diabetes

Apotekers.com Hasil dari sebuah penelitian menemukan bahwa penggunaan sedian gel topikal yang mengandung gen HSP60 ( Heat Shock Protein 60 ) menunjukan penyembuhan luka secara signifikan pada mencit yang telah dibuat diabetes sebelumnya.

Penemuan ini sangatlah penting dalam perancangan obat luka untuk penderita diabetes. HSP60 ini telah diproduksi kemudian di ujikan pada luka, terlibat dalam regenerasi jaringan dan pemulihan luka. Berdasarkan penelitian yang dipublikasi di npj Regenerative Medicine.

Koloni jamur pada luka diketahui sebagai hal atau penyebab terbentuknya biofilm bakteri jamur-jamur yang menghambat penyembuhan luka. Melihat jutaan pasien diabetes yang mengalami luka yang banyak diantaranya membutuhkan tidakan amputasi sehingga membutuhkan biaya yang tinggi dalam pengobatanya. tapi tentunya tidak biaya saja hal ini juga menambah tingkat stres pada penderita diabetes.

Daerah luka pada penderita diabetes pada umumnya dibagian bawah kaki yang akan menyebabkan sirkulasi yang buruk, iritasi, dan banyak hal yang lainya. Untuk meningkatkan genetika dalam hal penyembuhan luka ini dapat memunculkan obat baru ataupun metoda yang baru yang lebih efektif dari pada metoda atau obat yang sebelumnya.

Gen ini ditemukan dalam setiap organisme mulai dari bakteri sampai kepada manusia. Dan dalam penelitian ini ditemukan bahwa pada vetebrata gen ini ternyata memiliki peran penting dalam imunitas kemudian esensial untuk penyembuhan luka, kata peneliti senior Shawn Burgess, PhD.

Selain hal diatas HSP60 juga memiliki fungsi khusus dalam respon inflamasi. Protein ini diketahui dapat mencegah pada proses folding protein yang terbukti menjadi molekul pengantar signal yang menginisiasi respon inflamasi.

Para peneliti kemudian mengujikan penemuan ini pada mencit dan menemukan bahwa mengoleskan HSP60 secara topikal pada mencit uji diabetes melihatkan penyembuhan luka yang sempurna dalam 21 hari. Sungguh sebuah hasil yang cukup mengejutkan tentunya.

Tetapi banyak proses yang harus dilalui dalam keberhasilan penelitian ini lebih lanjut. Seperti mengetahui apakan protein ini dapat juga membantu menyembuhkan luka kepada orang yang tidak diabetes.

Para peneliti juga mengujikan heat shock protein lainya untuk menentukan apakah ada protein lain yang terlibat dalam proses penyembuhan. Karena mekanisme pengantraran signal antar sel belum diketahui secara keseluruhan, sehingga penelitian ini membutuhkan penelitian-penelitian yang mendasar tentang protein ini.

pharmacytimes.com

Tuesday, November 8, 2016

Jurnal FORMULASI GEL EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PALA (Myristicae fragrans Houtt) SEBAGAI ANTIINFLAMASI

Jurnal FORMULASI GEL EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH (Myristicae fragrans Houtt) SEBAGAI ANTIINFLAMASI

Monday, October 3, 2016

Fakta Mengejutkan Data Uji Klinik Penemuan Obat Baru di Cina Dimanipulasi


Pengembangan Obat Baru

Apotekers.com – Penyelidikan pemerintah Cina telah mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen dari data yang digunakan dalam uji klinis obat baru telah dimanipulasi.

Laporan ini menemukan perilaku penipuan di hampir setiap tahap, dan menunjukkan bahwa beberapa perusahaan farmasi telah menyembunyikan catatan dari efek samping yang merugikan, dan menghilangkan data yang tidak memenuhi hasil yang diinginkan.

Dalam temuan ini, 80 persen dari aplikasi obat saat ini, yang sedang menunggu persetujuan untuk produksi massal, kini telah dibatalkan.
Penyelidikan, yang dipimpin oleh Chinese State Food and Drug Administration (CSFDA), melihat data dari 1.622 uji klinis untuk obat farmasi baru saat ini sedang menunggu persetujuan. Aplikasi yang dimaksud adalah semua untuk obat luar Cina, bukan obat tradisional Cina.
CSFDA menemukan bahwa lebih dari 80 persen dari data gagal memenuhi persyaratan analisis, tidak lengkap, atau benar-benar tidak ada.
Tidak hanya laporan temuan banyaknya obat ‘baru’ yang menunggu persetujuan, mereka juga menunjukkan bahwa banyak hasil percobaan klinis ditulis sebelum pengujian telah benar-benar terjadi, dan data telah cukup dimanipulasi untuk sesuai dengan apa yang perusahaan ingin temukan.
Bahkan itu bukan hanya beberapa ilmuwan atau perusahaan farmasi melakukan pekerjaan kotor. Laporan ini menemukan bahwa cukup banyak orang yang terlibat dalam penipuan malpraktek.
Mungkin yang paling mengkhawatirkan, peneliti pihak ketiga yang independen yang bertugas memeriksa fasilitas uji klinis yang disebutkan dalam laporan sebagai “kaki tangan di fabrikasi data karena memotong jalur kompetisi dan motivasi ekonomi”.
Dengan kata lain, industri farmasi China memiliki masalah benar-benar, benar-benar besar – dan CSFDA sekarang harus khawatir tentang semua obat baru lain yang disetujui dengan label “aman” berdasarkan uji klinis berpotensi tidak bisa diandalkan.
Masalahnya bukan berada di peraturan – uji klinis, Cina memiliki pedoman yang sama dengan standar internasional, dengan tiga tahap yang diperlukan untuk menguji keamanan, efisiensi, dan apakah atau tidak obat baru lebih baik dari pengobatan yang ada.
Pedoman tersebut sebaiknya dikomunikasikan dan diperiksa oleh pihak ketiga, tapi jelas adanya “kurang kepatuhan kepada mereka,” jelas Ben Hargreaves dari PharmaFile.
Harian lokal Ekonomi di Cina mengutip orang dalam industri yang tidak disebutkan namanya yang tidak terkejut sedikit pun pada temuan ini.
“Manipulasi Data klinis adalah rahasia umum bahkan sebelum pemeriksaan,” dikutip dari seorang kepala rumah sakit yang tidak disebutkan namanya.
Menurut Luo Liang, seorang profesional kesehatan Cina, masalah berasal dari fakta bahwa perusahaan farmasi lokal yang mencoba untuk memproduksi obat produk luar Cina yang berjuang untuk menghasilkan keuntungan.
“Ini bukan hanya obat-obatan,” katanya. “Di Cina, semuanya palsu, dan jika ada keuntungan dalam obat-obatan, maka seseorang akan memalsukan mereka juga.”
Sumber : Farmasetika.com

Saturday, October 1, 2016

IBu Wajib Baca Ini Peringatkan Produk Homeopati Gigi (Homeopathic Teething) Bentuk Tablet dan Gel Dari FDA Amerika

IBu Wajib Baca Ini Peringatkan Produk Homeopati Gigi (Homeopathic Teething) Bentuk Tablet dan Gel Dari FDA Amerika

Apotekers.com.
 Food and Drug Administration (FDA) Amerika kemarin (30/9) memperingatkan produk homeopati gigi (homeopathic teething) bentuk tablet dan gel. Produk Hyland dan sejenisnya banyak dijual secara online termasuk di Indonesia.
Menurut informasi dari salah satu situs online di Indonesia, Hylands Baby Teething Gel aman dan efektif membantu mengurangi sakit dan bengkak pada gusi si kecil semasa pertumbuhan gigi. Terbuat dari tanaman tanaman sehingga aman dan tidak ada efek samping bagi si kecil.
FDA memperingatkan konsumen bahwa homeopati tablet gigi dan gel dapat menimbulkan risiko pada bayi dan anak-anak. FDA merekomendasikan kepada konsumen untuk berhenti menggunakan produk tersebut.
Homeopati tablet gigi dan gel didistribusikan oleh CVS, Hyland, dan mungkin orang lain, dan dijual di toko-toko ritel dan online.
Konsumen harus segera mencari perawatan medis jika anak mereka mengalami kejang, kesulitan bernapas, kelesuan, mengantuk berlebihan, kelemahan otot, kulit memerah, sembelit, kesulitan buang air kecil, atau agitasi setelah menggunakan tablet gigi homeopati atau gel.
“Kami merekomendasikan orang tua dan pengasuh tidak memberikan tablet dan gel gigi homeopati untuk anak-anak dan mencari nasihat dari profesional perawatan kesehatan mereka untuk alternatif yang aman.” lanjutnya.
FDA menganalisis efek samping yang dilaporkan ke lembaga mengenai tablet dan gel homeopati gigi, termasuk kejang pada bayi dan anak-anak yang diberi produk ini, sejak peringatan keselamatan pada tahun 2010 terkait tablet gigi homeopati. FDA saat ini sedang menyelidiki masalah ini, termasuk pengujian sampel produk. Badan ini akan terus berkomunikasi dengan publik sebagai informasi lebih lanjut tersedia.
Homeopati tablet gigi dan gel belum dievaluasi atau disetujui oleh FDA untuk keselamatan atau keampuhan. Badan ini juga tidak menyadari manfaat kesehatan terbukti dari produk yang diberi label untuk meringankan tumbuh gigi gejala pada anak-anak.
Sumber : Majalah Farmasetika

Tuesday, September 27, 2016

Jurnal Formulasi Gel Ektrak Etanol Kulit Batang Pinus Sebagai Anti Bakteri Pada Jerawat


Jurnal Formulasi Gel Ektrak Etanol Kulit Batang Pinus Sebagai Anti Bakteri Pada Jerawat

Jurnal Formulasi Shower Gel Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela Dan Uji Daya Hambatnya Terhadap Jamur Candida albicans


Jurnal Formulasi Shower Gel Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela Dan Uji Daya Hambatnya Terhadap Jamur Candida albicans


Sunday, September 25, 2016

Jurnal Formulasi Permen Jeli Penghilang Bau Mulut dari Minyak Atsiri Buah Kapulaga

Jurnal Formulasi Permen Jeli Penghilang Bau Mulut dari Minyak Atsiri Buah Kapulaga

Saturday, September 24, 2016

Jurnal Penetapan Kadar Xanton Dari Kulit Buah, Putik, dan Getah Batang Manggis Dengan Metoda Spektrofotometri UV-Vis

Jurnal Penetapan Kadar Xanton Dari Kulit Buah, Putik, dan Getah Batang Manggis Dengan Metoda Spektrofotometri UV-Vis


Jurnal Standarisasi Dan Praformulasi Ekstrak Kering Daun Lidah Mertua

Jurnal Standarisasi Dan Praformulasi Ekstrak Kering Daun Lidah Mertua


Thursday, September 22, 2016

Jurnal Pengembangan dan Validasi Metoda Analisis Zat Pengawet Natrium Benzoat Pada Cabe Giling



Jurnal Pengembangan dan Validasi Metoda Analisis Zat Pengawet Natrium Benzoat Pada Cabe Giling

Wednesday, September 21, 2016

Pengembangan Vaksin Chikungunya Oleh Group Zydus dan Takeda Mulai Kembangkan



Apotekers.com Cadila Healthcare Ltd, anak perusahaan dari Grup Zydus di India hari ini (20/9) mengumumkan kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Takeda Pharmaceutical dalam mengembangkan dan mengkomersialkan vaksin chikungunya.Perjanjian yang berbasis luas meliputi pengembangan tahap awal dan untuk komersialisasi akhir dari vaksin.
“Kami selalu berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra dan bekerja sama untuk membawa terapi terjangkau serta menjembatani kebutuhan kesehatan yang belum terpenuhi,” kata Pankaj R. Patel, ketua dan direktur pengelola dari Zydus.
“Dengan bermitra dengan Takeda untuk inisiatif penelitian dan pengembangan ini sangat penting, hal ini dapat meningkatkan kemampuan pengembangan kami, kami akan mengambil langkah yang terpenting untuk mencegah beban penyakit yang sangat umum di negara-negara berkembang,” tambah Patel.
Saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk mencegah dan mengobati infeksi virus chikungunya, yang sebagian besar disebabkan oleh Aedes aegypti dan nyamuk Aedes albopictus.
Chikungunya telah diidentifikasi di lebih dari 60 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Latin.Sejak tahun 2005, India, Indonesia, Maladewa, Myanmar dan Thailand telah melaporkan lebih dari 1,9 juta kasus chikungunya.
Perusahaan Cadila aktif dalam penelitian vaksin dan telah mengembangkan serta memasarkan vaksin H1N1. Selain itu, saat ini telah mengembangkan kandidat vaksin untuk mengatasi penyakit menular seperti influenza, leishmaniasis, campak-gondong-rubela-varicella (measles-mumps-rubella-varicella/MMR), tifus dan hepatitis B.

Monday, September 19, 2016

Jurnal Pengaruh Variasi Konsentrasi HPMC Sebagai Pengikat Pada Formulasi Tablet Kunyah Kalsium Laktat

Jurnal Pengaruh Variasi Konsentrasi HPMC Sebagai Pengikat Pada Formulasi Tablet Kunyah Kalsium Laktat